Rajawali Kaltara
Rajawalikaltara.com dengan semangat baru, ingin menyajikan informasi-informasi lugas, terpercaya serta lebih akrab dengan masyarakat Kaltara.

KERACUNAN MASSAL, PEMILIK KANTIN SMP 2 DIAMANKAN POLISI

0 187

TARAKAN, rajawalikaltara.com – Pasca diamankannya beberapa sampel bekas makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan para pelajar, aparat kepolisian hingga saat ini masih meminta keterangan karyawan kantin di sekolah tersebut.

Salah seorang petugas Puskesmas Karang Rejo, Lias menyatakan, pihaknya sudah menerima adanya laporan keracunan makanan. Maka dari itu pihaknya menindaklanjuti dengan mendatangi kantin sekolah tersebut untuk melakukan pemeriksaan dan mengambil sample makanan bersama tim dari Puskesmas untuk diuji di laboratorium.

“Kalau gejala merinding, keringat, muntah, mual dan pusing itu memang gejala keracunan. Semua sample sudah kami ambil yang dijual di kantin ini, nasi uduk, mie, nasi lalap dan soto. Sample ini baru bisa diketahui yang mana diduga mengandung racun setelah dua sampai tiga hari, tergantung laboratorium memberikan hasilnya kapan,” singkatnya.

Di sisi lain, Kapolres Tarakan AKBP Dearystone M.H.R Supit melalui Perwira Urusan Subbag Humas Ipda Taharman mengaku para siswa di SMP Negeri 2 ini memang biasa makan di kantin milik SG (38). Ia yang sudah berjualan sejak 13 tahun lalu ini, menjual beberapa menu yaitu nasi ayam penyet, nasi lalap, bubur ayam dan nasi uduk dengan lauknya ayam potong yang dimasak pedas.

Lima orang siswa yang dirujuk ke RSUD Tarakan, Putri kelas IX, Natalia kelas VIII, Meta kelas IX, Audi kelas VIII, Rizki Juliardi kelas IX, Isnawati kelas VI. “Untuk pemilik kantin sementara kita amankan dan kita lakukan interogasi di ruangan Satreskrim,” katanya.

Lebih lanjut, kata dia, meski belum berani menyimpulkan, namun ia mengungkapkan jika dari hasil penyidikan terbukti ada kelalaian atau kesengajaan, SG bisa dikenakan Undang-undang (UU) Pangan atau UU Perlindungan Konsumen dan bisa dilakukan penahanan karena ancaman pidana minimal 5 tahun penjara.

“Nanti menunggu hasil pengembangan dari pemeriksaan penyidik, tapi ibu kantin ini menggunakan beras beda dari yang biasanya. Ibu kantin ini memasaknya malam dan ia mengaku tidak ada yang basi,” ujar pria yang akrab disapa Tahe.

Soal dugaan ada persaingan bisnis karena ada kantin lain yang sepi dibandingkan jualan SG, Ipda Taharman menegaskan tetap menunggu hasil pemeriksaan. “Nanti kita dalami, sementara kan yang kita lakukan pemeriksaan masih SG. Tapi, nanti guru dan siswa lainnya yang keracunan dan tidak juga akan kita mintai keterangan,” tegasnya.(rk1)

Comments
Loading...