Rajawali Kaltara
Rajawalikaltara.com dengan semangat baru, ingin menyajikan informasi-informasi lugas, terpercaya serta lebih akrab dengan masyarakat Kaltara.

Apresiasi Cara Persuasif Turunkan Plang Khilafatul Muslimin, DMI Tarakan : Agar Masyarakat Tidak Resah

0 117
Foto : Spesial

TARAKAN – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Tarakan mengapresiasi langkah cepat dan humanis MUI Kaltara dan FKUB Tarakan dalam menurunkan papan nama Khilafatul Muslimin di Tarakan.

Penurunan papan nama Khilafatul Muslimin di Tarakan tersebut merupakan hasil dari pendekatan persuasif yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltara, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama Tim Pengawasan Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Tarakan saat meninjau kediaman Amri selaku Koordinator Daerah (Kemas’ulan) Khilafatul Muslimin Tarakan di Kelurahan Juata Permai Tarakan, Rabu (15/6/2022).

“Kita mengapresiasi langkah cepat organisasi dibawah koordinasi Kemenag, MUI, FKUB, pihak Kepolisian dan lainnya dalam menurunkan Plang nama (Khilafatul Muslimin) tersebut,” Ucap Ketua DMI Tarakan, Ustadz Nur Ali saat diwawancarai Jumat (17/06).

Ketua DMI Kota Tarakan, Ustadz Nur Ali

 

Dikatakan Nur Ali, langkah untuk menurunkan papan nama tersebut sangat tepat dilakukan guna mencegah konflik sosial di masyarakat agar masyarakat tidak resah sehingga berujung main hakim sendiri kepada jamaah Khilafatul Muslimin.

“Nah itu kalau tidak dilepas akan menjadi fitnah dan yang kedua adalah menjadi ancaman jamaahnya (Khilafatul Muslimin). Kita sangat bersyukur respon cepat itu. Biar suasana panas cepat dingin. Artinya meskipun tidak terjadi kegiatan yg aktif, kalau ada papan nama itu kan bisa mengganggu. Khawatir ada kecemburuan sosial jika disini tidak dilepas sedangkan ditempat lain sudah,” Ujarnya.

Kendati demikian, Nur Ali menerangkan, yang perlu diwaspadai adalah Ideologi atau pahamnya bukan personal. Sebab para pengikut organisasi ini dinilai merupakan orang yang rendah secara pengetahuan dan perlu bimbingan dalam meluruskan pemahaman keagamaan yang dimiliki.

“Yang berbahaya itu pola pikirnya karena itu doktrin sehingga mudah sekali mengatakan kafir padahal kita sama-sama tuhannya, sama-sama nabinya, sama-sama kitabnya,” Tuturnya.

Sebagai Ketua organisasi pengelola Masjid se-Tarakan ini, Nur Ali mengingatkan agar Masjid-masjid tidak sembarangan menghadirkan penceramah yang tidak dikenal.

Ia mengatakan perlu setiap pengelola Masjid untuk mengetahui terlebih dahulu rekam jejak penceramah yang diundang guna mencegah penyebaran ideologi gerakan semacam ini.

DMI Tarakan berharap paham ini tidak muncul dan eksis di Kota Tarakan. Sebab keberadaan organisasi sangat bertentangan baik secara Ideologi maupun gerakan di Indonesia.

Nur Ali menambahkan, pihaknya akan mengadakan rapat internal guna membahas persoalan ini. Sebab selama ini Masjid seringkali dijadikan basis penyebaran ajaran menyimpang oleh kelompok sejenis ini.

“Kami DMI menghimbau kepada seluruh masyarakat, pengelola Masjid hati-hati dengan kelompok-kelompok pengajian disekitar yang sekiranya itu dilakukan secara tertutup. Tidak terbuka atau dirahasiakan untuk umum. Biasanya itu pahamnya berbeda seperti yang lain,” Imbaunya. (DS)

 

Comments
Loading...