Rajawali Kaltara
Rajawalikaltara.com dengan semangat baru, ingin menyajikan informasi-informasi lugas, terpercaya serta lebih akrab dengan masyarakat Kaltara.

Ngeri! Di Sebut Tafsir Ayat-Hadits Modal Terjemahan, Ini Kata Ketua DMI Tarakan Saat Berdialog Dengan Pimpinan KM

0 105
Foto : Spesial

TARAKAN – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Tarakan mengutarakan keberadaan kelompok Khilafatul Muslimin sangat mengganggu ketentraman masyarakat.

Ketua DMI Kota Tarakan, Ustadz Nur Ali menyatakan ideologi Khilafatul Muslimin ini sangat bertentangan dengan paham ajaran Islam yang semestinya, terlebih Islam khas Indonesia.

“Kami sangat terganggu sekali dengan kehadiran Khilafatul Muslimin ini di Tarakan. Karena sekitar 2 atau 3 tahun lalu kami sudah berdialog dengan mereka,” Ungkap Nur Ali saat diwawancarai Jumat (17/06).

Amir (Pemimpin) Khilafatul Muslimin Regional Kalimantan yang datang sekitar 3 tahun yang lalu ke Tarakan, menurut Nur Ali memiliki pemahaman yang dangkal dan menyimpang serta hanya menafsirkan Al-Quran dan Hadits secara tekstual.

“Keberadaan dia ini kalau diajak dialog sangat kurang memahami kaidah-kaidah Islam. Terus terang saja, dia kurang ilmu sehingga dia tidak bisa mengutarakan dalilnya seperti apa,” Ujar Nur Ali.

Bahkan ia menyebutkan konsep gerakan ideologi yang diusung oleh Khilafatul Muslimin ini sangat ekstrim.

“Bentuk Khilafatul Muslimin ini sangat Ekstrim sangat keras sehingga pola pikirnya tidak layak dan tidak pantas ada di negara kita Indonesia,” Tutur Nur Ali.

Dikatakan Nur Ali, memahami ajaran Islam tidak cukup hanya memahami terjemahan Ayat dan Hadits. Namun juga mesti memiliki kaidah-kaidah ilmu lainnya, seperti ilmu Asbabun Nuzul Qur’an dan Ilmu Asbabun Wurud Hadits.

“Kita memahami Ayat Al-Qur’an dan Hadits tidak cukup memahami terjemahannya tapi kita harus memahami namanya ilmu Asbabun Nuzul yaitu sebab-sebab turunnya ayat dan jika ditinjau dari segi hadits tidak cukup memahami teksnya saja. Ada ilmu Asbabun Wurud,” Terang Nur Ali.

“Islam itu artinya tinggi, ilmunya luas jangan dipersempit. Gak boleh begini, gak boleh begitu artinya dipersempit. Boleh kita beda pendapat, beda keyakinan, paham tapi jangan menyalahkan yang lain. Apalagi kalau kita memusuhi negara, itu sangat tidak diperbolehkan,” Jelasnya.

Nur Ali mengatakan, pihaknya juga mengapresiasi langkah cepat dan humanis penurunan papan nama Khilafatul Muslimin di Tarakan hasil kolaborasi MUI-FKUB dan Tim Pengawasan Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Tarakan saat menyambangi kediaman Amri selaku Koordinator Daerah (Kemas’ulan) Khilafatul Muslimin Tarakan di Kelurahan Juata Permai Tarakan, Rabu (15/6/2022).

“Kita mengapresiasi langkah cepat organisasi dibawah koordinasi Kemenag, MUI, FKUB, pihak Kepolisian dan lainnya dalam menurunkan Plang nama (Khilafatul Muslimin) tersebut,” Ucapnya.

Langkah itu dinilai sangat tepat dilakukan guna meredam konflik sosial di masyarakat sehingga masyarakat tidak main hakim sendiri kepada jamaah Khilafatul Muslimin.

“Nah itu kalau tidak dilepas akan menjadi fitnah dan yang kedua adalah menjadi ancaman jamaahnya (Khilafatul Muslimin). Kita sangat bersyukur respon cepat itu. Biar suasana panas cepat dingin. Artinya meskipun tidak terjadi kegiatan yg aktif, kalau ada papan nama itu kan bisa mengganggu. Khawatir ada kecemburuan sosial jika disini tidak dilepas sedangkan ditempat lain sudah,” Ujarnya.

Sebagai Ketua organisasi pengelola Masjid se-Tarakan ini, Nur Ali mengingatkan agar Masjid-masjid tidak sembarangan menghadirkan penceramah yang tidak dikenal.

Ia mengatakan perlu setiap pengelola Masjid untuk mengetahui terlebih dahulu rekam jejak penceramah yang diundang guna menangkal gerakan berbahaya semacam ini.

DMI Tarakan berharap paham ini tidak muncul dan eksis di Kota Tarakan. Sebab keberadaan organisasi sangat bertentangan baik secara Ideologi maupun gerakan di Indonesia.

Nur Ali menambahkan, pihaknya akan mengadakan rapat internal guna membahas persoalan ini. Sebab Masjid seringkali oleh Kelompok berbahaya ini dijadikan basis penyebaran ajaran menyimpang ini.

“Kami DMI menghimbau kepada seluruh masyarakat, pengelola Masjid hati-hati dengan kelompok-kelompok pengajian disekitar yang sekiranya itu dilakukan secara tertutup. Tidak terbuka atau dirahasiakan untuk umum. Biasanya itu pahamnya berbeda seperti yang lain,” Pungkasnya. (DS)

Comments
Loading...