Tarakan – Festival budaya tahunan kebanggaan masyarakat Bumi Paguntaka, Iraw Tengkayu XV, kembali akan digelar pada awal Juli 2026. Meski dilaksanakan di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Tarakan memastikan kualitas penyelenggaraan tetap menjadi prioritas.
Melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar), persiapan festival saat ini telah mencapai sekitar 50 persen. Sejumlah tahapan, mulai dari penataan lokasi, latihan tari kolosal, hingga pembukaan pendaftaran pawai budaya, terus dilakukan guna menyukseskan pelaksanaan festival.
Wakil Sekretaris Panitia Iraw Tengkayu XV, M. Zainuddin, mengatakan bahwa penyesuaian anggaran menjadi tantangan utama pada penyelenggaraan tahun ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya anggaran berkisar antara Rp1 miliar hingga Rp2 miliar, kini panitia harus menyesuaikan pelaksanaan dengan semangat efisiensi.
Lainnya
Sejumlah penyesuaian teknis pun dilakukan, di antaranya pengurangan jumlah penari kolosal dari sekitar 250 orang menjadi 150 orang, serta penataan kembali jumlah panitia dan personel pengamanan. Meski demikian, menurut Zainuddin, langkah tersebut justru dilakukan agar kesejahteraan para pelaku seni tetap terjaga.
“Penari dikurangi agar honor mereka tetap sesuai standar. Kami ingin manfaat anggaran tetap dirasakan langsung oleh para seniman lokal,” ujarnya.
Panitia juga memutuskan tidak menghadirkan artis nasional menggunakan dana bantuan pemerintah pusat. Sesuai arahan Kementerian Pariwisata, dana stimulan diarahkan untuk mendukung potensi dan pelaku seni daerah.
“Kecuali ada dukungan sponsor dalam waktu dekat, panggung hiburan rakyat pada 5 Juli nanti akan sepenuhnya diisi oleh seniman lokal Tarakan,” tambahnya.
Di tengah keterbatasan anggaran, Iraw Tengkayu kembali menorehkan prestasi dengan berhasil masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) untuk kelima kalinya. Menurut Zainuddin, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa festival budaya Tarakan dinilai mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, berkontribusi terhadap pelestarian budaya, serta memiliki tata kelola penyelenggaraan yang baik.
Tahun ini juga terdapat perubahan jadwal pelaksanaan. Jika sebelumnya Iraw Tengkayu identik digelar pada Oktober atau Desember, kini festival dipindahkan ke bulan Juli. Perubahan ini dilakukan agar tidak berbenturan dengan agenda budaya di kabupaten dan kota lain di Kalimantan Utara, sekaligus memberi kesempatan lebih luas bagi pelajar untuk terlibat dalam kegiatan pelestarian budaya.
Selain itu, rangkaian kegiatan budaya akan berlanjut dengan penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) VI pada Agustus 2026 dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pemerintah Kota Tarakan memastikan perubahan jadwal tersebut tidak memengaruhi status Iraw Tengkayu sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara, karena telah dikoordinasikan dan mendapat persetujuan dari pemerintah pusat.(*)
















