TARAKAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara terus mendorong percepatan digitalisasi transaksi pemerintah daerah melalui optimalisasi penggunaan Kartu Kredit Indonesia (KKI) dan Kartu Kredit Pemerintah Daerah (KKPD). Upaya tersebut disampaikan Kepala KPwBI Kaltara, Agus Taufik, dalam High Level Meeting Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Kota Tarakan bertema “Sinergi Digital untuk Tarakan”.
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peluncuran SP2D Online serta pemberian apresiasi kepada perangkat daerah sebagai bentuk penguatan implementasi digitalisasi di lingkungan Pemerintah Kota Tarakan.
Dalam sambutannya, Agus Taufik mengatakan pemanfaatan KKPD di Kalimantan Utara masih memiliki ruang yang cukup besar untuk terus ditingkatkan. Sesuai ketentuan pemerintah, sekitar 40 persen penggunaan uang persediaan diharapkan dapat dilakukan melalui KKI maupun KKPD.
Lainnya
“Masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan penggunaan KKPD. Oleh karena itu diperlukan komitmen bersama seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) agar pemanfaatan KKI dan KKPD semakin ditingkatkan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya mempercepat digitalisasi sistem pembayaran di daerah, Bank Indonesia Kaltara juga akan menggelar rangkaian kegiatan dalam Pekan QRIS Nasional 2026 yang direncanakan berlangsung di Kota Tarakan pada 15–16 Agustus 2026.
Menurut Agus, Pekan QRIS Nasional merupakan agenda nasional Bank Indonesia yang juga diselenggarakan di daerah dengan menyesuaikan karakteristik dan kearifan lokal masing-masing.
Dalam pelaksanaannya, BI Kaltara menghadirkan dua program utama, yakni KATALIS (Kaltara Digital QRIS) dan KALTARUN.
KATALIS akan menghadirkan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat, di antaranya fun run, lomba band bagi kalangan pelajar dan generasi muda, serta lomba jingle QRIS. Kegiatan tersebut juga akan dikolaborasikan dengan TP2DD, Samsat, serta edukasi perlindungan konsumen.
Agus menilai edukasi perlindungan konsumen menjadi bagian penting di tengah pesatnya perkembangan digitalisasi. Menurutnya, masyarakat perlu terus diberikan pemahaman mengenai berbagai risiko transaksi digital, seperti kejahatan siber, penipuan, hingga spam, sehingga kesadaran dan kewaspadaan masyarakat dapat terus meningkat.
Sementara itu, KALTARUN akan digelar pada 16 Agustus 2026 dengan target sekitar 1.500 peserta. Menariknya, seluruh biaya pendaftaran peserta akan disalurkan untuk kegiatan sosial melalui donasi.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Bank Indonesia berharap penggunaan dan volume transaksi QRIS di masyarakat semakin meningkat. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat literasi keuangan digital sekaligus memberikan efek pengganda bagi pertumbuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di Kota Tarakan.(*)
















