24 Agustus 2026

Inflasi Tarakan Naik 0,45 Persen pada Juni 2026, Cabai Rawit dan Tarif Angkutan Udara Jadi Pemicu Utama

by

admin

Rajawalikaltara.com

Screenshot

TARAKAN – Kota Tarakan mengalami inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,45 persen pada Juni 2026. Kenaikan harga cabai rawit, angkutan udara, bawang merah, dan bahan bakar kendaraan menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga Juni 2026 mencapai 1,87 persen, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) tercatat sebesar 3,62 persen dengan IHK berada di angka 110,02.

Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, S.ST., M.Si., mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,23 persen.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi faktor dominan pembentuk inflasi bulan Juni. Kelompok transportasi juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kenaikan indeks harga konsumen,” ujar Umar.

Selain itu, kelompok transportasi menyumbang inflasi sebesar 0,14 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04 persen serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,04 persen.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran turut memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen, sedangkan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menyumbang 0,01 persen.

Di sisi lain, tidak seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mengalami deflasi sebesar 0,03 persen, sementara kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mencatat deflasi 0,01 persen.

“Tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Ada beberapa kelompok yang justru mengalami penurunan indeks sehingga ikut menahan laju inflasi bulan ini,” katanya.

Secara komoditas, cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,0873 persen. Berikutnya angkutan udara sebesar 0,0729 persen, bawang merah 0,0726 persen, bensin 0,0713 persen, kue basah 0,0642 persen, ikan layang atau ikan benggol 0,0360 persen, minyak goreng 0,0212 persen, seng 0,0207 persen, tomat 0,0205 persen, dan martabak 0,0181 persen.

“Cabai rawit kembali menjadi komoditas yang paling dominan memengaruhi inflasi bulanan. Selain itu, penyesuaian tarif angkutan udara dan kenaikan harga bahan bakar kendaraan juga memberikan andil yang cukup besar terhadap inflasi Juni,” jelas Umar.

Sementara itu, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga mampu menahan laju inflasi. Komoditas tersebut antara lain kangkung, telur ayam ras, emas perhiasan, angkutan laut, daging ayam ras, buku tulis bergaris, terong, ketimun, bayam, dan pembersih lantai.

“Adanya komoditas yang mengalami deflasi menunjukkan pergerakan harga di pasar masih cukup dinamis. Penurunan harga beberapa komoditas tersebut membantu meredam tekanan inflasi agar tidak lebih tinggi,” ujarnya.

Menurut Umar, capaian inflasi hingga pertengahan tahun perlu menjadi perhatian karena sudah mendekati dua persen. Apabila tren inflasi pada semester kedua mengikuti pola tahun sebelumnya, inflasi hingga akhir tahun berpotensi melampaui sasaran inflasi nasional.

“Melihat perkembangan inflasi hingga pertengahan tahun, pengendalian harga komoditas pangan strategis harus terus diperkuat. Sinergi TPID bersama seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar inflasi tetap terkendali,” katanya.

Ia berharap berbagai langkah pengendalian yang dilakukan pemerintah dapat menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.

“Harapannya, stabilitas harga tetap terjaga sehingga aktivitas ekonomi berjalan baik dan daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan hingga akhir tahun,” pungkas Umar.(*)

Related Post

Tinggalkan komentar